Mau Kaya Jadilah Petani yang PIntar !

- Februari 13, 2017

Mau Kaya Jadilah Petani yang PIntar !

 
. . Saya yakin hampir seluruh orang Indonesia pasti tak akan setuju andaikan saya mengatakan "Mau Kaya Jadilah Petani", tidak ada yng salah yang dengannya ketidaksetujuan yang telah di sebutkan kalau melihat fakta serta potret petani Indonesia yng hidupnya kian memprihatinkan.
Profesi menjdai petani percis sekali bukan menjadi pilihan yng baik kalau melihat bagaimana keadaan petani-petani di Indonesia yng masih jauh dari kata sejahtera. Amat berbeda andaikan dibandingkan yang dengannya beberapa negara maju semisal Jepang serta Amerika, petaninya hidup sejahtera serta telah maju yang dengannya penerapan teknologi yng pionir.

Sebetulnya tidak lebih adil membandingkan antara pertanian di Indonesia yang dengannya beberapa negara maju, lantaran meskipun negara kita terkenal menjdai negara agraris namun menjdai negara berkembang ramai sekali hal yng menghambat jalannya menuju pertanian yng maju yang dengannya mempergunakan teknologi yng mumpuni.
Saya masih ingat sekali sekitar dua tahun lalu mengikuti satu dari sekian banyaknya mata kuliah di mana dosen yng bersangkutan menampilkan slide yng adalah hasil capture dari sebuah tabloid di Amerika "Mau Kaya Jadilah Petani", pada tabloid yang telah di sebutkan dijelaskan betapa menyenangkannya berprofesi menjdai petani di Amerika menjadikan ajakan-ajakan semisal ini telah menjadi hal yng biasa. Ini benar adanya kalau melihat pendapat salah seorang pemegang saham di bursa wall street Jim Rogers yng mengatakan, "Jika anda ingin kaya jadilah petani, dia berpendapat harga komoditas pangan dunia dalam beberapa waktu ke depan akan meningkat tajam mengalahkan bursa-busa keuangan global. Dunia sekarang ini dilanda krisis pangan, kita tidak membutuhkan lagi seorang bankir untuk mengoptimalisasi perdagangan, tetapi yang kita butuhkan adalah jumlah petani untuk mengatasi krisis."
Di beberapa negara maju, profesi petani memanglah Amat menjanjikan mengingat begitu besarnya perhatian pemerintah terhadap petaninya. Selain ditunjang yang dengannya teknologi yng maju, para petani di beberapa negara maju kecil sekali mungkin mengalami kerugian. Bagaimana tak pemerintah memberi jaminan andaikan terlaksana gagal panen, hal ini semisal menjadi sebuah asuransi kegagalan dalam berusaha tani menjadikan petaninya tidak butuh khawatir yang dengannya kerugian yng mungkin akan ditanggung andaikan terlaksana gagal panen lantaran telah ada jaminan yng membuat orang-orang tetap aman.
Di beberapa negara maju seluruh kebutuhan petaninya memanglah difasilitasi sedemikian rupa, mulai dari kemudahan mendapatkan berita, pengadaan pupuk, benih unggul sampai-sampai pemasarannya pun lebih terakomodir menjadikan dari hulu hingga ke hilir prosesnya berjalan yang dengannya baik, selain itu inovasi dalam bidang pertanian pun berkembang yang dengannya pesat. Kemudian bagaimana potret petani di Tanah Air? Rasanya tidak butuh saya jelaskan, tidak sedikit di antara orang-orang yng hidup miskin serta jauh dari kata sejahtera. Ramai sekali faktor yng memicu pertanian di Indonesia semisal jalan di tempat serta belum menunjukan kepada perubahan yng lebih baik.
Sektor pertanian menjdai satu dari sekian banyaknya penyumbang devisa terbesar di negara ini akan tetapi tidak memberi jaminan ke hidup-an para petaninya pun baik. Dari segi kepemilikan lahan, petani Indonesia mempunyai lahan yng dibatasi andaikan dibandingkan yang dengannya petani di beberapa negara maju, selain itu sebagian besar dari petani Indonesia tidak memiliki lahan cuma menjadi penggarap saja yng membuat keuntungan dalam berusaha tani akan terbagi yang dengannya pemilik lahan. Kemudahan dalam mendapatkan berita seputar dunia pertanian yng belum didapat yang dengannya baik membuat petani di Indonesia bekerja cuma didasari pengalaman serta tidak melihat perkembangan serta keadaan di lapangan.
Peran penyuluh pertanian di lapangan pun masih tidak lebih efektif mengingat jumlah orang-orang yng dibatasi di mana seharusnya satu penyuluh satu desa namun pada kenyataannya satu penyuluh memegang beberapa desa, pada intinya Indonesia masih kekurangan tenaga penyuluh pertanian. Dari segi penerapan teknologi memanglah tidak diragukan lagi kalau Indonesia tertinggal jauh dari beberapa negara maju, ramai sekali pekerjaan-pekerjaan yng masih dikerjakan secara tradisional yng tidak sedikit memakan waktu menjadikan tidak lebih efektif serta efisien.
Pupuk serta benih unggul pun menjadi masalah klasik yng tidak kunjung terselesaikan, lihat saja bagaimana susahnya mencari pupuk bersubsidi di pasaran yng sebenarnya telah masuk ke kantong-kantong para pejabat negeri ini, begitu pun yang dengannya bibit unggul yng terkadang susah didapat meskipun ada itu pun Perlu dibeli yang dengannya harga yng tidak semestinya ataupun jauh di atas harga yng ditetapkan pemerintah.
Pemasaran pun pun menjadi sekelumit masalah pelengkap, bagaimana petani yng tidak lebih berdaya melawan para tengkulak. Panjangnya rantai pemasaran pun ikut berpengaruh terhadap kualitas hasil pertanian, di mana kita tahu bahwasanya komoditas hasil pertanian yng tidak mampu bertahan lama serta cepat busuk menjadikan butuh penanganan khusus agar kualitasnya tetap terjaga sampai-sampai hingga di tangan konsumen.
Alih fungsi lahan yng masif pun kian mempersempit areal pertanian menjadikan kalau hal ini terus dibiarkan jangan harap Indonesia mampu berswasembada lebih-lebih bagi atau bisa juga dikatakan untuk pangan. Profesi petani di negeri semisal bukan menjadi pilihan melainkan sebuah keterpaksaan lantaran telah tak ada lagi pilihan profesi lain.
Meskipun demikian sebetulnya masih tidak sedikit hal-hal yng patut kita syukuri di balik seluruh itu, semisal kita memiliki tanah yng subur dan masih masih mudahnya menemui petani yng membajak sawah yang dengannya mempergunakan tenaga sapi ataupun kerbau yng pendapat dari saya tidak ditemui di negara-negara maju, ini semisal sebuah kearifan lokal yng patut di awasi serta dilestarikan. Pada akhirnya saya cuma berharap, mudah-mudahan ke depannya pertanian di Indonesia akan menunjukan kemajuan yng signifikan menjadikan profesi menjdai petani di negara ini tidak lagi dipandang sebelah mata melainkan suatu profesi yng patut dibanggakan serta tidak sedikit orang yng mau berpindah profesi menjadi petani dan "Mau Kaya Jadilah Petani" mampu terwujud di negara ini.
Sumber : http://www.kompasiana.com/ikhlash/mau-kaya-jadilah-petani_54f45769745513a02b6c8981 Sponsored Links loading... Loading... .

Source Articles & Image : petanitop.blogspot.com

Seputar Mau Kaya Jadilah Petani yang PIntar !

Advertisement
 

Cari Artikel Selain Mau Kaya Jadilah Petani yang PIntar !